Indri Wulandari
Npm : 15114326
2KA20
Manajemen Layanan SI/TI
·
Sistem
Informasi Manajemen ( SIM )
Sistem memiliki istilah dimana adanya sistem pada
manusia maupun mesin yang terpadu guna menyajikan informasi untuk mendukung
fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi
yang menggunakan hardware dan software komputer, prosedur pedoman, model
manajemen dan keputusan, dan sebuah database.
Manajemen mencakup beberapa proses seperti
perencanaan, pengawasan, pengarahan, pengorganisasian dan lain-lain, dalam ruang
lingkup suatu organisasi.
Informasi adalah suatu data yang kemudian diolah
sedemikian rupa sehingga memiliki nilai lebih dan berguna. Bisa disimpulkan
bahwa SIM merupakan suatu sistem yang mengolah serta mengorganisasikan beberapa
data maupun informasi yang bermanfaat guna mendukung pelaksaan tugas dala
mruang lingkup organisasi.
· Sistem Informasi ( SI )
Sistem Informasi adalah sebuah fakta, kejadian,
statistik, maupun bentuk data lainnya yang bisa dipahami serta memiliki arti
sehingga bisa bermanfaat bagi pihak yang bersangkutan guna keperluan tertentu.
Namun, data pada umumnya harus diolah terlebih dahulu hingga menjadi informasi
yang bisa lebih mudah kita pahami.
·
Teknologi
Informasi ( TI )
Teknologi Informasi merupakan sekumpulan teknologi
berbasis komputer yang digunakan oleh manusia untuk bekerja dengan informasi
dan mendukung pemenuhan kebutuhan informasi dan pemrosesan informasi suatu
organisasi. Bisa disederhanakan sebagai berbagai teknologi yang membantu
pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan (manipulasi/analisis) serta komunikasi.
·
Keterkaitan
SIM dengan Layanan SI/TI
Ketiganya memang memiliki fungsi serta pengertian
berbeda namun berperan penting dalam fungsinya. Bisa kita lihat dimana Layanan
Sistem Informasi yang perannya mengumpulkan berbagai macam informasi penting
guna pemenuh kebutuhan dalam sebuah organisasi sehingga bisa berjalan dengan
lancar. TI pun memiliki peran penting dalam SIM yakni TI bisa dipergunakan
dalam cakupan proses manajemen seperti perencanaan, pengendalian, serta
pengambilan keputusan karena TI bisa kita gunakan untuk mengumpulkan,
menyimpan, memproses (manipulasi/analisis), serta komunikasi dan penyebaran
informasi. Jadi , demikian keterkaitan antara SIM dengan Layanan SI/TI.
ITSM (Information
Technology Service Management
Manajemen Layanan Teknologi Informasi) adalah suatu
metode pengelolaan sistem teknologi informasi (TI) yang
secara filosofis terpusat pada perspektif konsumen layanan TI terhadap bisnis
perusahaan. ITSM merupakan kebalikan dari pendekatan manajemen TI dan interaksi
bisnis yang terpusat pada teknologi. Istilah ITSM tidak berasal dari suatu organisasi,
pengarang, atau pemasok tertentu dan awal penggunaan frasa inipun tidak jelas
kapan dimulainya.
ITSM berfokus pada proses dan karenanya terkait dan memiliki minat yang sama dengan
kerangka kerja dan metodologi gerakan perbaikan proses (seperti TQM,
Six Sigma,
Business Process Management, dan
CMMI). Disiplin ini tidak memedulikan detail penggunaan produk
suatu pemasok tertentu atau detail teknis suatu sistem yang dikelola, melainkan
berfokus pada upaya penyediaan kerangka kerja untuk menstrukturkan aktivitas
yang terkait dengan TI dan interaksi antara personel teknis TI dengan pengguna
teknologi informasi.
ITSM umumnya menangani masalah operasional manajemen
teknologi informasi (kadang disebut operations
architecture, arsitektur operasi) dan bukan pada pengembangan teknologinya sendiri.
Contohnya, proses pembuatan perangkat
lunak komputer untuk dijual bukanlah fokus dari disiplin ini,
melainkan sistem komputer yang digunakan oleh bagian pemasaran dan pengembangan
bisnis di perusahaan perangkat lunak-lah yang merupakan fokus perhatiannya.
Banyak pula perusahaan non-teknologi, seperti pada industri keuangan, ritel,
dan pariwisata, yang memiliki sistem TI yang berperan penting, walaupun tidak
terpapar langsung kepada konsumennya.
Sesuai dengan fungsi ini, ITSM sering dianggap sebagai
analogi disiplin ERP pada TI, walaupun sejarahnya yang berakar pada operasi TI
dapat membatasi penerapannya pada aktivitas utama TI lainnya seperti manajemen portfolio TI dan
rekayasa perangkat lunak
Kerangka kerja (framework) yang dianggap dapat memberikan contoh penerapan
ITSM di antaranya:
·
Information Technology Infrastructure
Library
·
Control Objectives for Information and
Related Technology (COBIT)
·
Software Maintenance Maturity Model
·
PRM-IT IBM's Process Reference Model for
IT
·
Application Services Library (ASL)
·
Business Information Services Library (BISL)
·
Microsoft Operations Framework (MOF)
·
eSourcing Capability Model for Service Providers (eSCM-SP) dan eSourcing
Capability Model for Client Organizations (eSCM-CL) dari ITSqc
for Sourcing Management.
Six Sigma
Six Sigma adalah suatu alat manajemen baru yang digunakan untuk
mengganti Total Quality Management ( TQM ), sangat terfokus terhadap pengendalian
kualitas dengan mendalami sistem produksi perusahaan secara keseluruhan.
Memiliki tujuan untuk, menghilangkan cacat produksi, memangkas waktu pembuatan
produk, dan mehilangkan biaya. Six sigma juga
disebut sistem komprehensive - maksudnya adalah strategi, disiplin ilmu, dan
alat - untuk mencapai dan mendukung kesuksesan bisnis.
Six Sigma disebut strategi karena terfokus pada
peningkatan kepuasan pelanggan, disebut disiplin ilmu karena mengikuti model
formal,yaitu DMAIC ( Define,
Measure, Analyze, Improve, Control ) dan alat karena digunakan bersamaan
dengan yang lainnya, seperti Diagram Pareto(Pareto Chart) dan Histogram. Kesuksesan
peningkatan kualitas dan kinerja bisnis, tergantung dari kemampuan untuk
mengidentifikasi dan memecahkan masalah. Kemampuan
ini adalah hal fundamental dalam filosofi six sigma.
Six Sigma merupakan pendekatan
menyeluruh untuk menyelesaikan masalah dan peningkatan proses melalui fase DMAIC (Define,
Measure, Analyze, Improve, Control). DMAIC merupakan jantung analisis six
sigma yang menjamin voice of costumer berjalan dalam
keseluruhan proses sehingga produk yang dihasilkan memuaskan pelanggan.
·
Define adalah fase menentukan
masalah, menetapkan persyaratan-persyaratan pelanggan, mengetahui CTQ (Critical
to Quality).
·
Measure adalah fase mengukur tingkat
kecacatan pelanggan (Y).
·
Analyze adalah fase menganalisis
faktor-faktor penyebab masalah/cacat (X).
·
Improve adalah fase meningkatkan
proses (X) dan menghilangkan faktor-faktor penyebab cacat.
·
Control adalah fase mengontrol kinerja
proses (X) dan menjamin cacat tidak muncul.
Ø Sejarah
Carl Frederick Gauss (
1777-
1885) adalah orang yang
pertama kali memperkenalkan konsep kurva normal dalam bidang
statistik.
Konsep ini kemudian dikembangkan oleh
Walter
Shewhart pada tahun
1920 yang menjelaskan bahwa 3 sigma dari
nilai rata-rata (
mean) mengindikasikan perlunya perbaikan dalam sebuah
proses
.
Pada akhir tahun
1970, Dr.
Mikel Harry, seorang
insinyur senior pada
Motorola's
Government Electronics Group (GEG)
memulai percobaan untuk melakukan
problem
solvingdengan menggunakan analisa statistik.
Dengan menggunakan cara tsb, GEG mulai
menunjukkan peningkatan yang dramatis: produk didesain dan diproduksi lebih
cepat dengan biaya yg lebih murah.
Metode tersebut
kemudian ia tuliskan dalam sebuah makalah berjudul "The Strategic Vision
for Accelerating Six Sigma Within Motorola" Dr. Mikel Harry kemudian dibantu oleh Richard Schroeder, mantan
exekutive Motorola, menyusun suatu konsep perubahan manajemen ( change management ) yang didasarkan pada data. Hasil dari
kerja sama tersebut adalah sebuah alat pengukuran kualitas yg sederhana yg
kemudian menjadi filosofi kemajuan bisnis, yg dikenal dengan nama Six Sigma.
Ø Perbedaan
Sig Sixma Dengan Total Quality Management ( TQM )
Thomas Pyzdek, seorang konsultan implementasi Six Sigma dan
penyusun buku "The Six Sigma Handbook", pada bulan Februari 2001,
menjelaskan adanya perbedaan penting antara Six Sigma dan TQM yaitu, TQM hanya
memberikan petunjuk secara umum (sesuai dengan istilah manajemen yang digunakan
dalam TQM). Petunjuk untuk TQM
begitu umumnya sehingga hanya seorang pemimpin bisnis yang berbakat yang mampu
menterjemahkan TQM dalam operasional sehari-hari. Secara singkat, TQM
hanya memberikan petunjuk filosofis tentang menjaga dan meningkatkan kualitas,
tetapi sukar untuk membuktikan keberhasilan pencapaian peningkatan kualitas
Kemudian konsep Total
Quality Control, pada tahun 1950, menunjukkan bahwa kualitas produk bisa
ditingkatkan dengan cara memperpanjang jangkauan standar kualitas ke arah hulu,
yaitu di area engineering dan purchasing. Akan tetapi ada
beberapa kelemahan yang muncul pada pelaksanaan Total Quality Control yaitu :
1. Terlalu
fokus pada kualitas dan tidak memperhatikan isu bisnis kritis lainnya.
2. Implementasi
Total Quality Control menciptakan pemahaman bahwa masalah kualitas adalah
masalahnya departemen Quality Control, padahal masalah kualitas biasanya
berasal dari ketidakmampuan departemen lain dalam perusahaan yg sama.
3. Penekanan
umumnya pada standar minimum kualitas produk, bukan pada bagaimana meningkatkan
kinerja produk.
Six Sigma dalam
pelaksanaannya menunjukkan hal-hal menjadi solusi permasalahan di atas :
1. Menggunakan
isu biaya, cycle time dan isu bisnis lainnya sebagai bagian
yg harus diperbaiki.
2. Six
sigma tidak menggunakan ISO 9000 dan Malcolm
Baldrige Criteria tetapi
fokus pada penggunaan alat untuk mencapai hasil yg terukur.
3. Six
sigma memadukan semua tujuan organisasi dalam satu kesatuan. Kualitas hanyalah
salah satu tujuan, dan tidak berdiri sendiri atau lepas dari tujuan bisnis
lainnya.
4.
Six sigma menciptakan agen perubahan (change
agent) yg bukan bekerja di Quality Department. Ban hijau (Green Belt)
adalah para operator yg bekerja pada proyek Six Sigma sambil mengerjakan
tugasnya.
Ø Faktor
Penting Dalam Implementasi Six Sigma
1.
Dukungan dari top level six
sigma menawarkan pencapaian yang terukur
yang tidak akan mampu ditolak oleh pemimpin perusahaan, yang dikerjakan oleh
seorang super star yg sangat tahu apa yg harus dilakukan di bidangnya (Black
Belt, Project Champion, Executive Champion).
2.
Tim yang hebat Para
Executive Champion, Deployment Champions, Project Champions, Master Black
Belts, Black Belts, dan Green Belts adalah orang-orang yg terlatih dengan baik
untuk mengerjakan proyek Six Sigma.
3.
Training yg berbeda dgn yg
pernah ada anggota proyek Six Sigma adalah mereka yg pernah ditraining secara
khusus dengan biaya antara $15,000-$25,000 per Black Belt, yg akan dibayar
melalui saving yg didapat dari setiap proyek Six Sigma.
4.
Alat ukur yg baru, dengan
menggunakan DPMO (Defects Per Million Opportunities) yang berhubungan
erat dgn Critical to Quality (CTC) yg diukur berdasarkan persepsi customer, yg
bisa dibandingkan antar departemen atau divisi dalam satu perusahaan.
5.
Tradisi perusahaan yg baru,
yaitu mempromosikan usaha untuk melakukan peningkatan kualitas secara terus
menerus.
Ø Prosesnya
Langkah pertama adalah pembuatan keputusan oleh manajemen
senior untuk terlibat dalam upaya tersebut. Karena akan membutuhkan sumber daya
yang penting untuk organisasi keputusan ini harus dibuat oleh eksekutif kepala
dan laporan langsung nya. Kemudian diadakan seminar eksekutif, biasanya satu sampai
dua hari, untuk tim eksekutif untuk mempelajari pendekatan dasar dan
mendiskusikan peran pribadi mereka.] Salah
satu peran penting adalah memilih "Champions", manajer senior yang
akan mengawasi kerja aktual dari enam tim sigma. Perusahaan kemudian menyediakan kursus
khusus untuk juara, biasanya tiga sampai lima hari yang panjang.
Selama kursus metode dasar Six Sigma yang diperkenalkan
dan Champions mulai bekerja keras saat para pemimpin tim (sering disebut sabuk
hitam) akan terlibat. Beberapa
perusahaan menyebutnya sebagai 'tim perbaikan proses' dan ' spesialis perbaikan
proses ' tapi singkatan ini kurang diperhatikan serta mulai ditinggalkan,
kemudian muncul istilah dalam karate "sabuk hitam" dan menjadi lebih
populer.
Sumber Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Six_Sigma